Peran Kita Terhadap Pendidikan Mereka, Anak-Anak TPA

Cerita Seorang Anak TPA

[Sebuah Artikel dari http://athirahm.wordpress.com]

Suatu hari, orang tua saya berkata bahwa saya dan adik saya akan berpindah tempat belajar mengaji. Biasanya, kami belajar mengaji di masjid dekat rumah. Pada umumnya, anak-anak seusia kami juga belajar mengaji di sana, dengan metode yang lazim dipakai saat itu, yaitu mengenal huruf hijaiyyahlalu belajar membaca juz’ amma.

Bapak dan Mama mendapat kabar bahwa ada seorang guru mengaji di sekitar rumah kami. Kata orang-orang, cara mengajarnya bagus. Bapak dan Mama pun tertarik untuk mengantarkan saya dan Adik ke sana.

Terbukti! Memang cara mengajar ustazah tersebut bagus sekali, subhanallah. Pelajaran pertama, membaca jilid 1 buku Iqra’. Setelah lulus dari jilid 1, berlanjut ke jilid selanjutnya.

Itulah awal jalan saya belajar di sebuah TPA (Taman Pendidikan Alquran). Berbekal info dari Sang Ustazah, Bapak dan Mama memindahkan kami ke sebuah TPA. Pas sekali, orang tua si pengelola TPA adalah orang yang sekampung dengan Bapak. Jadilah, Bapak dan Mama memercayakan pendidikan baca Alquran, hafalan doa, dan adab untuk kami kepada para ustaz dan ustazah di TPA tersebut.

Diajari tajwid

Di TPA tersebut, kami diajari tajwid. Dengan buku Iqra’, perkembangan kami tumbuh bertahap. Walau dalam Islam, memukul dalam rangka pendidikan itu tidak terlarang (misalnya: memukul anak yang sudah tamyiz jika dia menolak untuk shalat meski sudah dinasihati berkali-kali), Ustaz dan Ustazah tidak pernah memukul kami. Cukup dengan peringatan, kami akan menurut. Anak-anak yang lain pun seperti itu.

Diajari doa

Kami juga diajari doa-doa. Salah satu kenangan manis hingga dewasa, adalah hafalan doa setelah tasyahud akhir.

حديث أبي هريرة مرفوعا إذا فرغ أحدكم من التشهد الأخير فليتعوذ بالله من اربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر فتنة المسيح الدجال رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي

“Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah secara marfu’, ‘Jika salah seorang dari kalian selesai bertasyahud akhir maka berlindunglah kepada Allah dari empat hal: dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan serta kematian, dan dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.’” (Diriwayatkan olehAl-Jam’ah, kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi; dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Mukhtashar Al-Irwa’ Al-Ghalil, juz 1, hlm. 70)

Diajari adab

Sebagaimana anak-anak yang lain, kami juga diajari adab makan, minum, keluar rumah, dan lain-lain. Ada satu lagi adab lain yang kami pelajari secara “tidak langsung”. Sebuah adab yang langsung dicontohkan oleh Ustaz dan Ustazah, adab berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Dalam hari yang sama, Ustaz dan Ustazah tidak akan mengajar bersamaan. Hari Senin, para Ustaz yang mengajar. Hari Selasa, para Ustazah yang mengajar. Berselang-seling, pada hari yang berbeda.

Kalau para pengajar TPA perlu mengadakan rapat, santri-santri TPA akan dipulangkan lebih awal. Para santri, yang sedang menunggu jemputan masing-masing, akan senang sekali berjalan dari sisi Ustaz, kemudian ke sisi Ustazah. Ya, mereka sedang rapat dengan diantarai pembatas. Jika Ustazah ingin menyampaikan pendapat, Ustazah akan mengetuk tabir kayu itu. Untuk anak kecil yang belum pernah melihat kegiatan semacam ini, rapat dengan dibatasi hijab memang terlihat unik dan menarik.

Jilbab Ustazah dan celana Ustaz

Di sebuah sore, para santri sedang menunggu kedatangan pengajar. Sambil menunggu, kami bercerita dengan gaya khas anak-anak, tentang penculikan para muslimah oleh sekawanan ninja.

Setelah dewasa, saya baru mengerti desas-desus itu. Ustazah-ustazah kami, yang sudah berani berjilbab besar di saat pemerintah masih sulit berkompromi dengan pengenaan jilbab oleh para muslimah, telah menjadi buah bibir masyarakat luas.

Selain jilbab Ustazah yang besar, ujung celana para Ustaz juga sudah berada di atas mata kaki dan para Ustaz juga berjenggot.

Mebel dan cerita tentang bintang

Muamalah yang baik, sikap yang santun dan ramah dari para pengajar TPA, membuat orang tua para santri tetap percaya dengan para Ustaz dan Ustazah yang menyebarkan sunah* di tengah keawaman umat Islam saat itu. Meskipun sebagian berita miring menerpa mereka, TPA tetap berjalan. Toh, para pengajar TPA tidak mengajarkan ajaran sesat. Justru, mereka datang membawa cahaya baru untuk manusia belia yang memerlukan pondasi Islam yang sahih.

Para orang tua memandang Ustaz dan Ustazah sebagai manusia normal seperti mereka: makan, minum, mencari nafkah, beribadah, bermasyarakat.

Ada ustaz yang memiliki usaha produksi dan jual-beli mebel.

Ada juga ustaz yang pengetahuannya luas, hingga dia menceritakan perihal bintang-bintang di langit.

Ustaz tersebut berkata bahwa saat malam di langit, ada cahaya tanpa kerlap-kerlip, yang sinarnya paling terang. Sejatinya, itu bukan bintang, melainkan planet. Selama rentang antara subuh dan pagi, planet itu masih kelihatan bersinar. Waktu matahari mulai terbit, cahayanya semakin buram, dan akhirnya sirna berganti langit cerah pagi hari.

Mendapat cerita itu, saya ingin membuktikan perkataan Ustaz. Saya cari cahaya di langit yang sinarnya paling terang dan tak berkedip. Benar sekali, ternyata memang ada cahaya tanpa kerlap-kerlip di atas sana ….

Sebentar masa, banyak teladan

Masa TPA, saya jalani kurang dari enam tahun. Namun, teladan mereka, para Ustaz dan Ustazah, menjadi bekal penting dalam menjejak kehidupan setelahnya.

Jazahumullahu khairan.

Bandar Universiti, 3 Juli 2011,
Athirah

============

Apa yang Menghalangi Kita untuk Menyayangi Anak-Anak TPA?

[Sebuah artikel dari alashree.wordpress.com. Admin blog tersebut (Abu Muhammad Al-Ashri) memposting ulang dari catatan FB berjudul Sayangilah Mereka karya al-akh Arif Rahman Habib, (Teknik Elektro UGM angkatan masuk 2009, http://www.elektrocyber.wordpress.com)]
.

Bismillah, ini mungkin  adalah catatan pertama saya di fb. Catatan ini saya rasa penting bagi ikhwan-ikhwan takmir khususnya dan non takmir umumnya dalam rangka saling tanashuhdi antara kita. Terlebih bagi ikhwan yang sudah mulai jenuh dengan profesinya sebagai takmir. Semoga ini dapat memberi kebaikan bagi kita semua.Kita tahu ya ikhwan, menjadi takmir memang bukan pekerjaan mudah. Selain kita adalah orang asing, tentunya kita juga membawa dakwah salaf. Itulah yang membuat kita terkadang salah tingkah dan selektif dalam bergaul dengan masyarakat. Terkadang ada masyarakat ada yang mengajak kita untuk ikut acara-acara yang tidak sejalan dengan prinsip kita sebagai salafi, sehingga disinilah kita diuji untuk menolak dengan halus dengan tetap memohon petunjuk bagi mereka. Itu hanya salah satu bumbu dari banyak bumbu penyedap rasa dalam ketakmiran kita. Akan tetapi ada sebuah mutiara berharga yang terpendam yang perlu kita poles dan kita bersihkan. Mereka adalah anak-anak TPA.

Tentu saat kita awal pertama kali mengajar mereka, rasa jengkel dan kesal kadang muncul dalam diri kita. Apalagi kalau bukan kenakalan mereka. Itulah yang saya rasakan tatkala pertama kali mengajar mereka. Lari-lari, menendang-nendang, bikin keributan menghiasi hari-hari TPA. Tapi ya ikhwan, lambat laun rasa kesal itu perlahan berubah menjadi rasa cinta dan sayang terhadap mereka.

Suatu ketika, tatkala saya mengajar menerangkan tentang tidak bolehnya pacaran -materi ini harus disampaikan ya ikhwan karena banyak anak kecil sekarang sudah dewasa sebelum waktunya-, nonton sinetron dewasa, dan lain-lain (termasuk fesbukan), saya menanyai satu per satu santri saya tentang pacaran untuk mengetahui seberapa jauh mereka memahami tentang pacaran, dan subhanallah dari jawaban mereka banyak yang sudah bisa dianggap dewasa. Tapi, tiba-tiba seorang anak perempuan berkata -kurang lebih-

“Mas, saya sudah janji sama ibu saya kalau saya tidak akan pernah pacaran”.

Dada saya berdegup mendengar jawaban itu. Jawaban itu bukan lagi jawaban anak-anak atau orang dewasa, tapi sebuah jawaban yang mengandung prinsip dia menapaki kehidupan. Alhamdulillah.

Pada hari lainnya, ketika pelajaran belum mulai dan anak-anak masih bergerombol di tangga, kebetulan mereka sedang bercerita satu dengan lainnya. Mereka bercerita tentang sekolah mereka.

Sampai di tengah pembicaraan, ada pertanyaan, “Kenapa kamu nggak sekolah di SDIT “X”(saya lupa namanya)?” Anak itu menjawab “Nggak mau ah, itu kan sekolahnya orang PKS”

Dada saya berdegup lagi. Masya Allah, sekecil itu sudah mendapat kebaikan yang banyak, bandingkan dengan kita dulu kecil ya ikhwan! Di antara kita ada yang masih suka usil mencuri mangga tetangga, ngaji pun asal-asalan. Alih-alih berjanji pada orang tua kalau tidak mau pacaran, mereka malah sering kita buat kesal atas kenakalan kita.

Peristiwa lainnya terjadi belum lama. Suatu ketika, saya membuat permainan untuk membuat anak-anak tidak bosan. Saya bingung hendak main apa yang belum pernah mereka rasakan. Tiba-tiba saya ingat suatu permainan waktu kecil dimana guru saya menggambar ikan besar di papan tulis tanpa mata. Lalu satu persatu murid maju dengan ditutup mata sembari membawa spidol untuk membuat titik mata di ikan tersebut pada posisi yang tepat. Permainan itu saya coba.

Tiba-tiba anak-anak yang perempuan kompak berteriak “Mas, kok nggambar yang ada matanya sih? Kan nggak boleh. nanti di akhirat disuruh hidupin lo”.

Antum tahu perasaan saya waktu itu? Malu!! Malu sekali ya ikhwan! Ingin rasanya nangis. Anak-anak sekecil itu -meskipun saya tahu buku mereka gambar makhluk hidupnya juga banyak- sudah tahu kalau menggambar seperti itu sudah termasuk dosa besar. Masya Allah, mereka sudah tahu banyak kebaikan. Itu hanya sekelumit cerita ya ikhwan.

Saya tidak akan sekaget itu kalau yang saya ajar anak-anak pondok salafi. Tapi ini anak-anak masyarakat awwam. Mereka pagi juga sekolah SD, sore kalau nggak ada TPA juga bermain seperti anak -anak seusia mereka. Kadang juga mereka nakal dan sering bertengkar. Orang tua mereka juga orang tua awwam, ada yang bekerja sebagai pegawai, pedagang, dan lain-lain.

Itu yang membuat saya kagum. Bandingkan kita waktu kecil, saya saja mulai menghafal surat-surat pendek pada pertengahan SMP. Sedangkan ada santri saya masih kelas 4 SD sudah hafal surat Al Lail -meskipun masih terkadang lupa-. Adakah waktu kecil kita berbuka puasa dengan doa Dzahabazh zhama’u…dst?

Mereka sudah hafal di luar kepala ya ikhwan. Adakah waktu kecil kalau kita sudah selesai ngaji membaca doa kafaratul majlis? Santri-santri saya sudah hafal luar kepala.

Inilah mungkin barakah dakwah takmir-takmir pendahulu kita, yang mendidik mereka dengan rasa sabar dan kasih sayang. Mengenalkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan semaksimal mereka. Kita hanya meneruskan langkah mereka. Anak-anak sudah terpoles dengan cantik, tugas kita adalah mempercantik keindahan yang ada pada mereka. Mungkin akan lebih susah kalau anak-anak belum kenal sama sekali dengan ajaran Nabi yang benar. Jangan sampai anak-anak yang sudah berhasrat cantik justru kita lemparkan ke comberan karena ‘galaknya’ kita, kasarnya kita, atau lainnya.

Beberapa anak juga kadang mengeluh kepada saya karena saya terkadang galak, tidak pernah senyum, nagih janji yang tidak saya penuhi. Poin terakhir ini sering saya lakukan. Anak-anak sering meminta sesuatu sama saya lalu dengan asal saya bilang ‘Ya’ karena sedang sibuk atau selainnya,dan itu berulang-ulang.

Ternyata hal itu menjadi kebencian tersendiri anak-anak pada saya. Benarlah sabda nabi kalau kedustaan pada anak kecil meskipun niatnya hanya main-main atau bercanda tetap dicatat sebagai satu kedustaan.

Intinya, saya hanya mengingatkan -meskipun kapasitas saya tidaklah bisa menyamai ikhwan semua dalam nasehat dan juga yang perlu diingatkan adalah saya sendiri- agar kita bersikap rahmat pada anak-anak, sayang pada mereka.

Mungkin hasil dari didikan kita tidak bisa kita lihat sekarang, mungkin Allah menakdirkan suatu saat di antara mereka ada sosok-sosok pembela sunnah dan penggennggam bara api -insya Allah-.

Janganlah kita galak terhadap mereka meskipun mereka sangat menjengkelkan buat kita. Mari kita berlatih untuk menjadi pengajar TPA yang dicintai oleh anak-anak. Mumpung sebentar lagi Ramadhan, banyak anak berkumpul. Yang tidak pernah kelihatan TPA akan jadi kelihatan, yang sudah kelihatan akan semakin antusias mengikuti ramadhan. Percayalah, nakalnya mereka, ributnya mereka, lucunya mereka, bisa membuat beban pikiran kita agak sedikit berkurang.


About sunnah lover

belajar menjadi pribadi yang shalihah..

Posted on October 19, 2011, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: