Ternyata Ustadz Lebih Memerhatikan Kita….

Bismillah…

Pada kesempatan kali ini insya Allah saya akan berbagi kisah mengenai seorang ustadz -semoga Allah merahmati dan menjaga beliau- yang telah banyak memberikan faidah ilmu kepada saya dan keluarga saya, alhamdulillah, atas kehendak Allah. Kisah ini ditulis oleh Al Akh Abu Muhammad Al ‘Ashri, salah seorang murid ustadz tersebut di Yogyakarta dan tulisan ini saya dapat dari blog beliau hafidzahullah. Semoga penuturan kisah dari beliau ini dapat memberikan faidah bagi kita. Silahkan membaca.

Malam itu, Selasa 21 April 2009, kami berangkat menuju Masjid Al-Hasanah Yogyakarta untuk mengikuti kajian kitab تيسير العلام شرح عمدة الأحكام (Taisirul ‘Allaam Syarh Umdatil Ahkam) karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Alu Bassam, yang sudah memasuki كتاب البيوع ‘kitab jual-beli’. Namun, ternyata pemateri kajian, yaitu Ustadz Abu ‘Ukasyah Aris Munandar, berhalangan hadir.

Sore dua hari berikutnya, kajian kitab الإلمام في أصول الأحكام yang juga diisi oleh beliau ternyata juga diliburkan. Akhirnya, penulis baru mengetahui bahwa Ustadz Aris ternyata sedang mengalami udzur sakit. Serta merta, sore itu juga saya dan akh Abu Hatim segera berangkat menuju rumah beliau untuk menjenguknya. Beruntung bagi akh Abu Hatim masih bisa bertemu yang terakhir kalinya dengan Ustadz -untuk saat ini-. Ini karena ba’da Maghrib beliau harus segera berangkat ke Jakarta untuk mempersiapkan keberangkatan beliau ke Madinah, beberapa hari berikutnya. Akh Abu Hatim akan menjadi asisten pribadi Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr (Guru Besar Univesitas Islam Madinah, dan staf pengajar Masjid nabawi). Beliau ditugasi mengurusi web pribadi syaikh, dan juga diminta untuk mentranskrip ceramah-ceramah beliau. Dulu, Syaikh sendiri yang menelepon langsung beliau ketika berkonsultasi tentang dunia web. Dengan demikian, Akh Abu Hatim masih mempunyai kesempatan untuk berpamitan dengan Ustadz.

Sesampainya di rumah Ustadz, ternyata ikhwan-ikhwan ma’had ilmi sudah terlebih dahulu menemani beliau. Penulis begitu kaget ketika menyalami Ustadz, tangan beliau sangat panas. Ketika itu, beliau hanya berbaring di kasur yang digelar di lantai, dan penulis duduk di dekat beliau di atas kasur tersebut pula.

Penulis lebih kaget lagi katika menanyakan mulai kapan beliau berasa sakit, lalu beliau menjawab mulai selasa, sepulang mengajar kitab معالم أصول الفقه عند أهل السنة و الجماعة. Penulis kaget karena ketika mengajar kitab tersebut, beliau masih enerjik dan tidak terlihat ada tanda-tanda akan sakit.

Ternyata, semenjak selasa hingga kamis, Ustadz sama sekali tidak pergi ke rumah dokter. Kata beliau, beliau pernah merasakan hal yang sama dan biasanya akan sembuh sendiri setelah beristirahat yang cukup. Namun, penulis tidak bisa membayangkan sakit yang beliau derita karena tubuh beliau demikian panas. Yang lebih parah, beliau di rumah sendirian. Istri dan anak-anak beliau sedang di Purworejo, di rumah orang tua istri Ustadz. Bisakah kita bayangkan bila kita sakit keras, lalu tidak ada siapa-siapa di sisi kita? Subhanallah. Betapa sabar dirimu wahai Ustadz …

Penulis ingin menghubungi beberapa ikhwan kedokteran, tetapi qaddarullah mereka semua tidak sedang berada di Jogja. Akhirnya, penulis meminta akh Amin, ikhwan yang sedang co-ass di Banyumas, untuk menelepon Ustadz dan mendiagnosa penyakit beliau. Tak berselang terlalu lama, Akh Amin akhirnya sms resep untuk beliau, dan serta berta penulis pergi ke apotek untuk membelikan resep tersebut, dengan ditemani akh Ibnu Ahmad Ronal, ikhwan Farmasi.

Menjelang Maghrib, kami sudah mendapatkan obat yang diresepkan akh Amin. Ustadz terlihat tampak lemas, dan tubuh beliau masih sangat panas. Penulis menyampaikan kepada beliau bahwa apabila malam hari atau sewaktu-waktu membutuhkan bantuan, ustadz dapat menghubungi atau sms penulis. Akhirnya, bertepatan dengan suara adzan Maghrib, Ustadz mempersilakan kami pulang. Subhanallah. Belliau tampak tidak ingin merepotkan murid-murid beliau.

Ba’da Isya’, akh Ronal akhirnya mengantar Ustadz menemui dr Muhammad Iqbal dengan mobil. dr. Iqbal adalah Direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyyah. Beliau juga ketua takmir Masjid Al-Hasanah, masjid yang sering dipakai kajian ikhwan-ikhwan. Alhamdulillah beliau sudah mengenal manhaj salaf dan sangat mendukung perkembangan dakwah ahlus sunnah di Jogja. Beliau pernah berinisiatif mengadakan lomba hafalan kitab, dan beliau sendiri yang menganggarkan kegiatan tersebut beserta hadiahnya. Kitab yang dijadikan lomba adalah kitab Qawa’idul Arba’ karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Adapun hadiahnya adalah Kitab Shahih Bukhari. Pemenang juara I tidak lain adalah adalah teman kamar saya sendiri, Akh Abu Uwais (Teknik Elektro 2006 UGM).

dr. Iqbal menyarankan apabila hari Jumat Ustadz belum sembuh, beliau harus periksa tinja beliau, untuk mendiagnosa apakah ada amoebanya atau tidak. Akhirnya, hari Jumat beliau benar-benar belum sembuh. Kajian Kitab Al-Wajiz fi Fiqhis-Sunnah wal Kitabil ‘Aziz karya Dr. Abdul ‘Adzhim Badawi pun akhirnya diliburkan pula.

Sungguh mencengangkan. Jumat malam, ustadz justru mengirim sms kepada penulis,

“Assalamu’alaikum. Bsk pg sy mau usaha utk bs ngisi kaj d mpr. Jazakumullah khoir”

(Assalamu’alaikum. Besok pagi saya akan berusaha hadir untuk bisa mengisi kajian di Masjid Pogung Raya. Jazakumullahu khair)

Serta merta penulis balas dengan menyampaikan bahwa apakah Ustadz benar-benar yakin dengan keputusannya itu. Penulis juga menyarankan agar ustadz istirahat terlebih dahulu, apalagi penulis sudah menyebarkan sms kepad teman-teman bahwa kajian kitab Al-Irsyad ‘Ala Shahihil I’tiqad karya Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan diliburkan terlebih dahulu sampai Ustadz pulih. Namun, Ustadz bersikeras untuk tetap bisa mengisi kajian. Padahal, seharusnya beliau istirahat terlebih dahulu. Subhanallah. Ternyata, beliau lebih memperhatikan kita daripada tubuh beliau sendiri. Maka, alangkah malunya diri ini yang begitu lemah semangat dalam menuntut ilmu. Akhirnya, penulis menyebarkan ralat informasi, bahwa kajian tidak jadi diliburkan.

Pagi harinya, Sabtu 25 April 2009, Ustadz benar-benar datang ke tempat kajian, dengan diantar oleh akh Ronal dengan mobil beliau. Subhanallah. Ustadz sangat terlihat menahan sakit ketika mengisi kajian. Beberapa kali beliau menghela nafas dan menyempaikan materi dengan begitu pelannya. Tidak seperti biasanya yang begitu cepat dan enerjik dalam membaca kitab. Penulis bahkan mendengar suara peserta kajian yang duduk di samping penulis yang dengan pelan mengatakan, “Benar-benar Ustadz Kibar”. Na’am, beliau tetap mengisi materi dengan menahan sakit yang beliau derita hingga membuat kagum murid-muridnya.

Seusai kajian, penulis ikut ke dalam mobil akh Ronal untuk mengantar Ustadz Aris pulang. Di dalam mobil, Ustadz masih sempat mengatakan bahwa keesokan paginya (Ahad), beliau masih berusaha akan tetap datang mengajarkan kitab Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad. Subhanallah. Padahal, ketika penulis menyalami beliau ketika akan pulang sehabis mengantar beliau, penulis msih merasakan panas tubuh beliau, tidak kurang dari suhu panas yang penulis rasakan ketika memegang tangan beliau di hari kamis Sebelumnya. Subhanallah ustadz, ternyata Engkau lebih memerhatikan kami.

Sore harinya (hari ini, Sabtu, 25 April 2009), penulis mendapat sms dari Ustadz, dan beliau meminta penulis untuk datang ke rumah beliau. Sesampainya di rumah Ustadz, beliau meminta penulis untuk memeriksakan tinja beliau di Laboratorium, untuk mengetahui apakah ada amoeba atau tidak. Hasil tes sudah dapat diketahui ba’da maghrib, lalu langsung penulis serahkan kepada Ustadz. Hasil tes tersebut terdapat di dalam amplop yang diberikan pihak laboratorium, yang isinya tidak penulis ketahui. Penulis segera pamit untuk pulang setelah memberikan hasil tes tersebut karena ba’da Isya ustadz berencana akan keluar rumah………….

Dan kini, di malam ini… Penulis memohon kepada Allah agar segala rasa sakit yang menimpa ustadz, dapat menjadui pelebur dosa-dosa beliau. Dan mudah-mudahan, beliau segera diberi kesembuhan agar dapat mengajar murid-muridnya lagi sebagaimana biasanya.

Semangat beliau dalam mengajar memang demikian luar biasa. Penulis juga teringat peristiwa berkesan ketika dulu terjadi gempa besar di Yogyakarta tahun 2006. Tatkala manusia berlarian mencoba menyelamatkan diri mereka masing-masing, apalagi ada isu tsunami, eh… Ustadz malah bertanya, “Nanti ada kajian atau tidak?” Memang, ketika itu berita tentang korban yang berjatuhan di daerah selatan (BANTUL dan sekitarnya) belum begitu terdengar sampai di wilayah utara Yogya (dan kami tinggal di wiayah utara). Namun, masyarakat utara masih dirundung rasa panik karena adanya isu tsunami dan munculnya gempa susulan. Di kala manusia lari terbirit-birit menyelamatkan diri fisik mereka sendiri, ustadz malah bertanya, “Nanti ada kajian atau tidak?” Subhanallah…(Meskipun akhirnya kajian benar-benar libur karena tempat kajian juga digoyang gempa-gempa susulan).

Ya Ustadz, ternyata Engkau lebih memerhatikan diri kami

Tiada musibah yang lebih besar selain kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan.

Dan Engkau senantiasa mengingatkan kami dari hal-hal tersebut.

Suatu hal yang kami sendiri justru sering melalaikannya.

Sumber:  http://alashree.wordpress.com/2009/04/25/ternyata-ustadz-lebih-memerhatikan-kita/

About sunnah lover

belajar menjadi pribadi yang shalihah..

Posted on December 24, 2010, in biografi & kisah and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Subhanallah… tulisan mu seperti motivasi yg kuat utk kami.. jazakumullah khair ya akhi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: