Kesalahan yang Menimpa Sebagian Suami: Tidak Memperhatikan Pengajaran Agama kepada Istri

Diantara kesalahan yang menimpa sebagian suami adalah: Tidak memberikan ta’lim (pengajaran) agama dan hukum-hukum syari’at kepada istri.

 

Maka dijumpai adanya istri yang tidak tahu bagaimana cara shalat yang benar.

Dan diantara mereka ada yang tidak tahu hukum-hukum haid dan nifas.

Diantara mereka ada yang tidak tahu bagaimana bergaul dengan suaminya yang sesuai syari’at.

Atau bagaimana cara mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang islami.

Bahkan terkadang sebagian mereka ada yang jatuh dalam kesyirikan, kita berlindung kepada Allah dari yang demikian, dalam keadaan mereka tidak menyadari, seperti bernazar kepada selain Allah, sihir dan mendatangi dukun.

Akan tetapi, sebaliknya engkau dapatkan wanita tersebut menumpahkan seluruh perhatiannya untuk belajar masakan Eropa dan bagaimana cara penyajiannya, karena perkara itulah yang ditanyakan oleh suaminya.

Namun, bagaimana cara ia berwudhu untuk shalat?

Dan bagaimana menunaikannya?

 

Ini merupakan perkara yang tidak diperhatikan oleh suami dan tidak dipertanyakan… Hal ini tidak diragukan lagi merupakan sikap menyia-nyiakan asas ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى

“Saling tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.” (Al Maidah : 2)

Dan melalaikan tanggung jawab padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، …. وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya, … dan suami adalah pemimpin atas keluarganya.” (Muttafaqun alaih)

 

Cukup bagimu untuk mengetahui pentingnya ilmu syar’i bagi wanita muslimah dengan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menikahkan seorang wanita dengan seorang pria dan menjadikan maharnya berupa ayat Al Qur’an. Dikeluarkan haditsnya oleh Bukhari dalam shahihnya dan Muslim, dari Sahl bin Sa’ad: Pernah seorang wanita menawarkan dirinya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu berkata seseorang kepada beliau: “Ya Rasulullah, nikahkan aku dengan wanita itu.” Maka beliau bersabda:

“Apa yang ada padamu untuk dijadikan mahar?” Pria itu menjawab: “Tidak ada sesuatupun.” Nabi bersabda: “Pergilah dan carilah walau hanya cincin dari besi.” Pria itu pun pergi kemudian kembali dan berkata: “Tidak, demi Allah aku tidak mendapatkan apa-apa, walau hanya cincin dari besi.” Maka Nabi bersabda kepadanya: “Apa yang engkau hapal dari Al Qur’an?” Ia menjawab: “Aku memiliki hapalan surat ini dan itu”, dengan menyebut beberapa surat yang dihapalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami jadikan engkau memilikinya (yakni kami nikahkan engkau dengannya -pen) dengan mahar berupa hapalanmu dari Al Qur’an.”

 

Sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan bagi para wanita satu hari tertentu untuk mengajari dan menasehati mereka.

 

Wahai suami yang mulia!

Sesungguhnya banyak jalan dan cara untuk mengajarkan perkara agama kepada istri, -alhamdulillah- kami akan sebutkan untukmu beberapa diantaranya:

1. Engkau menghadiahkan untuknya sebuah buku tentang Islam dan hukum-hukumnya dan engkau mendiskusikan isi buku tersebut bersamanya.

2. Engkau menghadiahkan untuknya sebuah kaset dan engkau minta dia untuk meringkaskan untukmu materi yang dibawakan oleh penceramah.

3. Engkau membawanya untuk menghadiri pelajaran-pelajaran dan ceramah-ceramah yang disampaikan oleh para syaikh dan para penuntut ilmu di masjid-masjid.

4. Engkau mempelajari sebuah kitab bersamanya, seperti kitab “Riyadlus Shalihin” atau “Kitabut Tauhid.”

5. Setiap Jum’at, engkau sampaikan padanya materi khutbah Jum’at dan engkau diskusikan dengannya.

6. Engkau menghubungkannya dengan teman yang shalihah dan engkau membantunya untuk menghadiri majelis-majelis dzikir bersama mereka.

7. Jika memungkinkan, engkau membawanya ke pusat-pusat perkumpulan wanita yang ditangani kepengurusannya oleh para wanita shalihah.

8. Engkau membuat sebuah perpustakaan di dalam rumahmu yang memuat sekumpulan buku-buku islami dan engkau mendorongnya untuk menelaah/mempelajari dan membacanya.

9. Engkau mengkhususkan hadiah bulanan untuknya jika ia dapat menghapal beberapa surat atau ayat Al Qur’an.

10. Engkau mendorongnya untuk mendengarkan siaran pembacaan Al Qur’anul Karim.

 

[Disalin dari buku “Rumah Tangga Tanpa Problema” (Terj. kitab Al Usrah bilaa Masyakil , Penulis Mazin bin Abdul Karim Al Farih), Alih bahasa: Ummu Ishaq Zulfa bintu Husein, Penerbit Pustaka Al Haura’, Yogyakarta, Cetakan Kedua 1424 H]

 

~ditulis di sore yang syahdu, 14 Rabiul Awwal 1434 H, sembari menunggu dimulainya kajian rutin Bulughul Maram @MRC~

About these ads

About sunnah lover

belajar menjadi pribadi yang shalihah..

Posted on January 26, 2013, in akhlak & adab, nasehat, tazkiyatun nufus and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: