Pengetahuan Dasar Pelajaran Nahwu Untuk Pemula

BAGIAN 1. PENDAHULUAN

Tahap Pertama
Mengenali istilah-istilah dasar dalam bahasa arab

Dalam bahasa arab kata disebut dengan al-Kalimahal-Kalimah dibagi menjadi 3; isim(kata benda), fi’il (kata kerja) dan harf (kata depan).  Suatu susunan kalimat sempurna dalam bahasa arab disebut dengan al-Jumlah al-Mufidah/al-Kalam.

Ada  4 syarat jumlah mufidah, yaitu: [1] Berupa lafazh, yaitu suara yang terdiri dari huruf-huruf hija’iyah, [2] Tersusun (murokkab) lebih dari satu kata, baik tampak maupun tidak tampak/ada yang disembunyikan, [3] Berfaedah sempurna (mufid), artinya pendengar tidak menyimpan tanda tanya lagi setelah kalimat itu diucapkan karena ada sesuatu yang kurang lengkap dalam kalimat tersebut, [4] Mengikuti kaidah penyusunan kalimat dalam bahasa arab dan menggunakan bahasa arab, bukan bahasa selain arab (bil wadh’i).

Tahap Kedua
Mengenali Isim, Fi’il dan Harf

al-Kalimah atau ‘kata’ sebagaimana sudah diterangkan di atas terdiri dari isimfi’il danharf.  Berikut ini akan dijelaskan lebih detil mengenai ketiga macam kata tersebut, mulai dari pengertian, ciri-ciri, serta pembagiannya.

Pengertian Isim: Isim adalah suatu kata yang menunjukkan suatu makna sempurna dengan sendirinya dan tidak menggambarkan latar belakang waktu kejadian, dalam bahasa Indonesia isim dikenal dengan istilah ‘kata benda’. Kata benda ini bisa mencakup manusia, hewan, benda mati, tumbuhan, dan lain sebagainya.

Ciri-ciri Isim: Isim bisa dikenali dengan melihat ciri yang ada padanya, di antara ciri tersebut adalah: [1] Bisa dikasrah akhir katanya, [2] Bisa ditanwin akhirannya, [3] Bisa diberi alif-lam (al) di awalnya, [4] Didahului oleh harf jer (akan diterangkan nanti di bagian harf)

Pembagian Isim: Isim dapat dibagi berdasarkan bilangannya menjadi 3 jenis: [1] Isim mufrad; yaitu yang menunjukkan tunggal. [2] Isim mutsanna; yaitu yang menunjukkan ganda/dua. [3] Isim Jamak; yaitu yang menunjukkan banyak/lebih dari dua. Selain pembagian ini masih ada pembagian lain yang akan diterangkan di belakang, insya Allah.

Pengertian Fi’il: Fi’il adalah suatu kata yang menunjukkan suatu makna sempurna dengan sendirinya dan menggambarkan latar belakang waktu kejadian, dalam bahasa Indonesia fi’il dikenal dengan istilah ‘kata kerja’. Namun, terdapat sedikit perbedaan yaitu dalam bahasa arab bentuk kata kerja itu berubah sesuai dengan latar belakang waktu kejadiannya, tidak sebagaimana pada bahasa Indonesia. Kata kerja ini mencakup kata kerja lampau (fi’il madhi), kata kerja sekarang/akan datang (fi’il mudhari’), dan kata kerja perintah (fi’il amr).

Ciri-ciri Fi’il: Fi’il bisa dikenali dengan melihat ciri yang ada padanya, di antara ciri tersebut adalah: [1] Didahului dengan kata qad (sesungguhnya), [2] Didahului dengan katasaufa (kelak), [3] Didahului dengan kata sa (akan), [4] Diakhiri dengan ta’ ta’nits sakinah(huruf ta’ sukun yang menunjukkan pelakunya adalah perempuan), [5] Bisa bersambung dengan ta’ fa’il (huruf ta’ yang menunjukkan pelaku), [6] Bisa bersambung dengan nun taukid (huruf nun tasydid yang menunjukkan penegasan)

Pembagian Fi’il: Fi’il dapat dibagi berdasarkan bentuk penunjukan waktunya menjadi 3: [1] Fi’il madhi; menunjukkan suatu kejadian/perbuatan di waktu yang telah berlalu. [2]Fi’il mudhari’; menunjukkan suatu kejadian/perbuatan di waktu yang sedang berjalan atau akan datang. [3] Fi’il amr; menunjukkan tuntutan akan terjadinyaa suatu perbuatan di masa depan/sesudah waktu pembicaraan.

Pengertian Harf: Harf adalah suatu kata yang menunjukkan suatu makna sempurna tidak pada dirinya sendirinya, artinya dia memerlukan kata yang lain (isim atau fi’il) untuk menyempurnakan maksudnya.  Harf semacam ini disebut juga dengan harf ma’ani; huruf yang bermakna. Karena di sana terdapat juga jenis harf lain yang tidak bermakna dan disebut dengan harf mabani yaitu huruf-huruf hija’iyah (alif sampai ya’). Di antara contoh harf ma’ani adalah harf jer, yaitu harf yang menyebabkan isim sesudahnya menjadi kasrah.

Ciri-Ciri Harf: Harf tidak memiliki ciri khusus sebagaimana halnya isim atau fi’il.

Pembagian Harf: Harf dapat dibagi menjadi 3: [1] Harf yang bisa masuk kepada isim saja, contohnya adalah harf jer [2] Harf yang bisa masuk pada fi’il saja, contohnya harf lamdan lan [3] Harf yang bisa masuk kepada isim maupun fi’il, contohnya wa (yang artinya; dan).

Tahap Ketiga
Mengenal keadaan akhir kata

Dalam bahasa arab, akhir kata itu bisa berubah, dan ada juga yang tetap. Peristiwa perubahan akhir kata ini disebut i’rab. Kata yang bisa berubah akhirannya disebut dengan kata yang mu’rab. Adapun peristiwa tetapnya akhir kata disebut dengan istilah bina’. Kata yang senantiasa tetap keadaan akhirnya disebut dengan kata yang mabni.

Tahap Pertama:

Mengenal Macam-Macam I’rab

Sebagaimana sudah diterangkan di depan, bahwa dalam bahasa arab kata itu terbagi menjadi isimfi’il dan harf. Apabila ditinjau dari keadaan akhir katanya masing-masing kata tersebut dapat dirinci sebagai berikut: [1] Isim, ada yang mu’rab –akhirannya bisa berubah- dan ada yang mabni -akhirannya selalu tetap-, [2] Fi’il, ada yang mu’rab dan ada yang mabni, [3] Harf, semuanya mabni.

Macam I’rab: I’rab ada 4 macam: rofa’, nashab, jer/khafdh, dan jazm. I’rab yang ada pada isim adalah rofa’, nashab, dan jer. Adapun i’rab yang ada pada fi’il adalah rofa’, nashab dan jazm. Kata yang i’rabnya rofa’ disebut marfu’. Kata yang i’rabnya nashab disebut manshub. Kata yang i’rabnya jer disebut majrur. Dan kata yang i’rabnya jazm disebut majzum. Maka isim itu ada yang marfu’, ada yang manshub, dan ada yang majrur(tidak ada isim majzum). Sedangkan fi’il, ada yang marfu’, ada yang manshub, dan ada yang majzum (tidak ada fi’il majrur).

Tahap Kedua:

Pengenalan Isim Mu’rab dan Isim Mabni

Isim Mu’rab: adalah isim yang akhir katanya bisa berubah karena perubahan kedudukan/jabatan kata (misal sebagai pelaku) atau karena adanya kata lain yang mendahuluinya (misal harf jer). Isim mu’rab ada 9, yaitu: isim mufrad, mutsanna, jamak mudzakar salim, jamak mu’annats salim, jamak taksir, maqshur, manqush, asma’ul khamsah, dan isim laa yansharif .

Isim Mabni: adalah isim yang akhir katanya senantiasa tetap meskipun kedudukan/jabatan katanya berubah atau didahului oleh kata-kata yang menyebabkan perubahan pada isim mu’rab. Isim mabni ada 5, yaitu: isim dhamir (kata ganti), isim maushul (kata sambung), isim isyarah (kata penunjuk), isim istifham (kata tanya), danisim syarat (jika atau barangsiapa).

Tahap Ketiga:

Penjelasan Tanda-Tanda I’rab Pada Isim

Tanda i’rab pada isim terdiri dari tanda asal/pokok dan tanda cabang.

Tanda pokok i’rab pada isim adalah:

  1. Marfu’ dengan tanda dhommah; pada isim mufrad, jamak taksir, jamak mu’annats salim, dan isim laa yansharif
  2. Manshub dengan tanda fathah; pada isim mufrad, jamak taksir, dan isim laa yansharif
  3. Majrur dengan tanda kasrah; pada isim mufrad, jamak taksir, dan jamak mu’annats salim

Tanda cabang i’rab pada isim adalah sbb:

Tanda rofa’

  1. Marfu’ dengan tanda Alif; pada isim mutsanna
  2. Marfu’ dengan tanda Wawu; pada isim asma’ul khomsah dan jamak mudzakar salim
  3. Marfu’ dengan tanda Dhommah muqaddarah/dhommah yang tidak ditulis; pada isim maqshur dan manqush

Tanda nashab

  1. Manshub dengan tanda Ya’; pada isim mutsanna dan jamak mudzakar salim
  2. Manshub dengan tanda Alif; pada isim asma’ul khomsah
  3. Manshub dengan tanda Kasrah; pada isim jamak mu’annats salim
  4. Manshub dengan tanda Fathah muqaddarah; pada isim maqshur

Tanda jer

  1. Majrur dengan tanda Ya’; pada isim mutsanna dan jamak mudzakkar salim
  2. Majrur dengan tanda Fathah; pada isim laa yansharif
  3. Majrur dengan tanda Kasrah muqaddarah; pada isim maqshur dan manqush

Tahap Keempat:

Pengenalan Fi’il Mu’rab dan Fi’il Mabni

Fi’il Mu’rab: adalah fi’il yang akhir katanya bisa berubah karena disebabkan masuknya alat-alat penashob atau penjazem. Fi’il yang mu’rab mencakup; semua fi’il mudhari’ yang tidak bersambung dengan nun inats atau nun taukid.

Fi’il mudhari’ yang mu’rab ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

  1. Fi’il shohih akhir; yaitu yang akhirannya adalah huruf shohih (selain alif, wawu dan ta’)
  2. Fi’il mu’tal akhir; yaitu yang akhirannya adalah huruf ‘illat (alif, wawu atau ta’)
  3. Fi’il af’alul khomsah; yaitu yang akhirannya adalah huruf ‘illat dan nun

Fi’il Mabni: adalah fi’il yang akhir katanya senantiasa tetap meskipun dimasuki oleh alat penashob atau penjazem. Fi’il yang mabni mencakup; semua fi’il madhi, semua fi’il amr, dan fi’il mudhari’ yang bersambung dengan nun inats atau nun taukid.

Tahap Kelima:

Penjelasan Tanda-Tanda I’rab Pada Fi’il

Tanda i’rab pada fi’il adalah sebagai berikut:

Mudhari’ Shohih Akhir

  1. Marfu’ dengan tanda dhommah
  2. Manshub dengan tanda fathah
  3. Majzum dengan tanda sukun

Mudhari’ Mu’tal Akhir

  1. Marfu’ dengan tanda dhommah muqoddarah
  2. Manshub dengan tanda fathah pada mu’tal ya’ dan wawu sedangkan untuk mu’tal alif manshub dengan tanda fathah muqoddarah
  3. Majzum dengan tanda dihapus huruf terakhirnya/hadzful akhir

Mudhari’ Af’alul Khomsah

  1. Marfu’ dengan tetapnya huruf nun di akhir/tsubutun nun
  2. Manshub dengan dihapusnya huruf nun di akhir/hadzfun nun
  3. Majzum dengan dihapusnya huruf nun di akhir/hadzfun nun

Semoga bermanfaat.

Sumber: www.abumushlih.com

About these ads

About sunnah lover

belajar menjadi pribadi yang shalihah..

Posted on February 19, 2011, in bahasa arab and tagged , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. izin copy ya…jazakumulloh khoir…

  2. iya silahkan ukhty.. wajazakillahu khairan

  3. Terimakasih sharing-nya

  4. Muhammad Khakim Abdillah

    assalamu’alaikum._
    izin baca ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: